Bapak Pers Indonesia: Pejuang Kebebasan Pers dari Masa ke Masa
MAUNG PAJAJARAN NEWS – NASIONAL
Pers memiliki peran yang sangat penting dalam sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia. Melalui tulisan-tulisan yang dimuat di berbagai surat kabar, benih nasionalisme dan semangat persatuan tumbuh di kalangan pribumi. Di balik perjuangan tersebut, hadir para tokoh pers yang tidak hanya mencatat peristiwa, tetapi menjadikan pena sebagai senjata melawan kolonialisme dan ketidakadilan.
Lantas, siapakah tokoh yang pantas menyandang gelar Bapak Pers Indonesia?
R.M. Tirto Adhi Soerjo: Sang Pemula Pers Nasional
Raden Mas Tirto Adhi Soerjo lahir di Blora, Jawa Tengah, pada 1880. Berasal dari keluarga bangsawan, ia memilih meninggalkan status sosialnya demi menekuni dunia intelektual dan jurnalistik. Saat menempuh pendidikan di STOVIA Jakarta sejak 1894, minatnya terhadap dunia tulis-menulis semakin menguat, hingga akhirnya meninggalkan pendidikan kedokteran tersebut.
Pada 1903, Tirto mendirikan surat kabar Soenda Berita di Cianjur. Puncak kiprahnya terjadi pada 1907 saat ia menerbitkan Medan Prijaji, koran berbahasa Melayu pertama yang dikelola sepenuhnya oleh pribumi—dari redaksi, penerbitan, hingga wartawannya.
Di bawah kepala surat kabar Medan Prijaji tercantum motto legendaris:
“Organe boeat bangsa jang terperintah di Hindia Olanda, tempat memboeka soearanja.”
Motto ini menjadi simbol perlawanan terhadap hegemoni kolonial Belanda.
Tirto dikenal sebagai tokoh pertama yang secara sistematis menggunakan pers sebagai alat pembentuk opini publik. Kritik-kritiknya terhadap pemerintah kolonial kerap dikemas dalam bentuk cerita pendek—metode jurnalistik yang inovatif pada masanya.
Pada 1908, ia menerbitkan Putri Hindia, media yang mengangkat isu perempuan pribumi. Keberaniannya membuat Tirto berulang kali ditangkap dan dibuang ke Pulau Bacan, Maluku Utara, dalam kondisi yang sangat memprihatinkan hingga jatuh sakit.
Selain jurnalistik, Tirto juga mendirikan Sarekat Dagang Islam (SDI) pada 1911 di Bogor, cikal bakal Sarekat Islam yang kemudian dipimpin oleh HOS Tjokroaminoto.
Kiprah Tirto diabadikan oleh Pramoedya Ananta Toer melalui Tetralogi Buru dan buku Sang Pemula. Pada 1973, pemerintah secara resmi menganugerahkan gelar Bapak Pers Nasional kepada Tirto Adhi Soerjo.
Dja Endar Moeda: Perspektif Alternatif Bapak Pers Indonesia
Sejarawan Ichwan Azhari menyoroti tokoh lain yang dianggap berjasa besar dalam sejarah pers, yakni Dja Endar Moeda. Lahir pada 1861, ia telah aktif sebagai redaktur Pertja Barat di Sumatera Barat sejak 1887.
Akibat tulisan-tulisannya yang kritis, ia berkali-kali terkena delik pers, diusir, bahkan dihukum cambuk. Meski demikian, ia terus mendirikan media di berbagai daerah, termasuk Pemberita Atjeh. Ichwan Azhari menyebutnya sebagai “kakek pers Indonesia”, menegaskan bahwa sejarah pers tidak hanya lahir dari Jawa.
Sebelas Tokoh Perintis Pers Indonesia
Pada 1974, pemerintah menetapkan sebelas tokoh sebagai Perintis Pers Indonesia, yaitu:
- Abdul Rivai
- Bakrie Soeraatmadja
- Bintarti
- Danudirja Setiabudhi
- Darmosoegito
- Tirto Adhi Soerjo
- Djamaludin Adinegoro
- Sam Ratulangi
- Soedarjo Tjokrosisworo
- Soetopo Wonobojo
- Taher Tjindarboemi
Tokoh lain yang berperan penting antara lain Wahidin Soedirohoesodo, serta Tiga Serangkai—Tjipto Mangoenkoesoemo, Soewardi Soerjaningrat, dan Ernest Douwes Dekker—melalui surat kabar De Expres.
Rohana Kudus: Pelopor Pers Perempuan
Rohana Kudus dari Sumatera Barat mencatat sejarah sebagai pelopor pers perempuan Indonesia melalui pendirian surat kabar Sunting Melayu. Media ini menjadi simbol keberanian perempuan dalam menyuarakan kritik terhadap kebijakan kolonial.
Legenda Pers Era Modern
Di era kemerdekaan, muncul tokoh-tokoh pers kritis seperti Mochtar Lubis, pendiri harian Indonesia Raya, serta Atmakusumah Astraatmadja, arsitek lahirnya Undang-Undang Pers Nomor 40 Tahun 1999 dan Ketua Dewan Pers independen pertama. Atmakusumah menerima Ramon Magsaysay Award pada 2000 atas jasanya memperjuangkan kebebasan pers.
Penutup
Gelar Bapak Pers Indonesia yang disematkan kepada R.M. Tirto Adhi Soerjo merupakan pengakuan atas jasanya menjadikan pers sebagai alat perjuangan dan pembebasan. Namun, sejarah pers Indonesia adalah mozaik perjuangan kolektif—dari Dja Endar Moeda, Rohana Kudus, hingga para tokoh pers modern.
Semua memiliki satu kesamaan: keberanian menyuarakan kebenaran melalui tulisan. Warisan mereka menjadi fondasi kebebasan pers yang kini menjadi salah satu pilar demokrasi Indonesia.
Editor: Tim Redaksi Pajajaran News
Tayang: Nasional
Hak Cipta: © 2026 Pajajaran News
