Sampah Jadi Nilai Ekonomi, Dosen FISIP UNSAP Dorong Bank Sampah di Desa Mekar Bakti

Sumedang, Pamulihan — Selasa, 3 Februari
Sampah tidak seharusnya lagi menjadi beban masyarakat, melainkan harus mampu memberikan nilai ekonomi yang nyata. Hal tersebut disampaikan oleh Deden Haria garmana,S.Ip.,M.Si Dosen sekaligus Pembimbing Lapangan dari FISIP Universitas Sebelas April (UNSAP), dalam kegiatan sosialisasi pengelolaan sampah berbasis masyarakat di Desa Mekar Bakti, Kecamatan Pamulihan, Kabupaten Sumedang.
Dalam pemaparannya, Deden menjelaskan bahwa keberadaan bank sampah menjadi solusi konkret untuk mengubah pola pandang masyarakat terhadap sampah. Warga tidak hanya membuang, tetapi dapat menabung sampah yang memiliki nilai ekonomis.
“Melalui bank sampah, warga bisa menyetor sampah dan setiap setoran dicatat dalam buku tabungan. Nantinya, tabungan sampah tersebut bisa dicairkan dalam bentuk uang, misalnya menjelang Hari Raya atau untuk kebutuhan pendidikan anak,” ujarnya.
Menurutnya, konsep ini merupakan bentuk ekonomi kerakyatan yang langsung dirasakan manfaatnya oleh masyarakat, sehingga sampah benar-benar berubah menjadi sumber nilai tambah.
Selain aspek ekonomi, Deden juga menekankan pentingnya pembentukan karakter peduli lingkungan melalui slogan LISA (Lihat Sampah, Ambil).
“Sikap sederhana ini harus dibiasakan. Jika diterapkan secara konsisten, lingkungan akan bersih dan sehat, serta mendukung Sumedang sebagai daerah yang berprestasi dalam kebersihan,” tambahnya.
Program bank sampah ini juga selaras dengan arah kebijakan Pemerintah Provinsi Jawa Barat melalui Program Panca waluya (KDM) yang mengedepankan nilai Bager, Singer, Pinter, Cager, dan Bener, sebagai fondasi pembentukan karakter masyarakat yang berakhlak baik, sehat, cerdas, dan bertanggung jawab.
Terkait teknis pengelolaan, Deden menjelaskan bahwa lokasi bank sampah ditentukan melalui musyawarah desa, kemudian ditetapkan pengurus yang bertanggung jawab mengelola sampah terpilah dari warga.
“Pengelolaan bank sampah bisa bersifat mandiri atau berada di bawah BUMDes. Jika mandiri, tetap berada dalam kendali desa melalui SK Kepala Desa, sehingga memiliki legalitas dan tanggung jawab yang jelas,” jelasnya.
Melalui kegiatan ini, pihak kampus berharap dapat terus mendorong kontribusi nyata perguruan tinggi kepada masyarakat, khususnya dalam meningkatkan perekonomian warga Desa Mekar Bakti sekaligus menciptakan lingkungan yang bersih, sehat, dan berkelanjutan.
Red.
