EKSKLUSIF: Menggali Lorong Waktu Cadas Pangeran; Antara Kepahlawanan, Genosida, dan Kontroversi Sejarah
MAUNG PAJARAN NEWS, SUMEDANG – Di jantung tanah Pasundan, terukir sebuah jalan yang tak hanya menjadi saksi bisu perkembangan zaman, tetapi juga menyimpan berjuta cerita kelam sekaligus heroik. Cadas Pangeran, ruas nasional penghubung Bandung-Cirebon sepanjang tiga kilometer yang berkelok tajam di Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, berdiri kokoh sejak lebih dari dua abad lalu. Namun, di balik keindahan alamnya yang menakjubkan, terhampar kisah tragis tentang kerja paksa, ribuan nyawa melayang, hingga aksi perlawanan seorang bupati yang legendaris namun kini menuai tanda tanya besar .
Tim Maung Pajajaran News melakukan investigasi jurnalistik mendalam untuk menguak tabir sejarah De Grote Postweg (Jalan Raya Pos) di titik paling sulit pembangunannya ini. Berikut laporannya.
Proyek Ambisius Sang “Mas Guntur”
Kisah ini bermula pada tahun 1808, ketika Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels berkuasa di Hindia Belanda. Ditunjuk oleh Louis Napoleon, adik Kaisar Perancis Napoleon Bonaparte, Daendels mendapat tugas vital: mempertahankan Pulau Jawa dari serangan hegemoni laut Inggris . Salah satu strategi utamanya adalah membangun akses jalan raya pos dari Anyer di ujung barat hingga Panarukan (Banyuwangi) di ujung timur, membentang sepanjang 1.044 kilometer .
Namun, ambisi ini berubah menjadi malapetaka bagi warga pribumi. Saat pembangunan tiba di wilayah Sumedang, Daendels dihadapkan pada rintangan alam yang luar biasa: sebuah gunung dengan material batuan cadas yang sangat keras. Untuk menaklukkannya, ia mengerahkan ribuan pekerja secara rodi (kerja paksa). Mereka bukan hanya dari Sumedang, tetapi juga didatangkan dari Garut, Tasikmalaya, Subang, dan Indramayu .
Di bawah pengawasan prajurit Kompeni yang bengis, ribuan manusia itu hidup dalam penderitaan. Kelaparan dan wabah penyakit malaria menjadi santapan sehari-hari. Tak heran, jalan ini menjelma menjadi kuburan massal.
“Dalam pembikinan jalan inilah untuk pertama kali ada angka jumlah kurban yang jatuh 5.000 orang,” tulis sastrawan besar Pramoedya Ananta Toer dalam bukunya “Jalan Raya Pos, Jalan Daendels” . Pram bahkan dengan berani menyebut peristiwa ini sebagai genosida tidak langsung oleh Daendels terhadap masyarakat pribumi .
Hingga kini, keberadaan kuburan massal di sepanjang jalur Cadas Pangeran diyakini masyarakat setempat. Bahkan pada tahun 2007, saat pemetaan kawasan wisata, ditemukan kembali tulang-belulang yang diduga korban kerja paksa .
Salam Tangan Kiri dan Keris Nagasasra: Antara Heroisme dan Imajinasi
Di tengah tragedi kemanusiaan itu, muncullah secercah kisah heroik yang diwariskan secara turun-temurun. Cerita ini berpusat pada Pangeran Kusumadinata IX atau yang lebih dikenal sebagai Pangeran Kornel, Bupati Sumedang saat itu (1791-1828) .
Dikisahkan, saat mendengar penderitaan rakyatnya, Pangeran Kornel bergegas mendatangi lokasi pembangunan dan bertemu dengan Daendels. Momen pertemuan inilah yang kemudian diabadikan dalam sebuah monumen ikonik di pintu masuk Cadas Pangeran. Dalam monumen tersebut, tampak Pangeran Kornel menjabat tangan Daendels dengan tangan kirinya, sementara tangan kanannya siap menghunus Keris Pusaka Nagasasra di pinggang .
Aksi ini dimaknai sebagai perlambang perlawanan dan keberanian. Sebuah sikap tidak gentar terhadap Jenderal Belanda yang dikenal kejam dan dijuluki “Mas Guntur” atau “Mas Galak” oleh masyarakat . Bahkan dalam versi cerita lisan yang lebih heroik, Pangeran Kornel disebut menantang Daendels bertarung fisik dengan ucapan, “Lebih baik gugur bersama sekaligus, daripada mengorbankan rakyat Sumedang yang tak berdosa” .
Keris Nagasasra yang menjadi sakbis (saksi bisu) momen itu kini masih tersimpan rapi di Museum Prabu Geusan Ulun, Sumedang .
Menggugah Fakta: Folklore atau Fakta Sejarah?
Namun, di sinilah letak kontroversinya. Semakin banyak penelitian sejarah modern, kisah heroik Pangeran Kornel ini semakin dipertanyakan otentisitasnya.
R Moch Achmad Wiriaatmadja, pelukis peristiwa Cadas Pangeran yang lukisannya (dibuat tahun 1974) menjadi acuan pembuatan patung monumen, memberikan pengakuan mengejutkan. Kepada Republika, ia mengungkapkan bahwa lukisan tersebut dibuat murni berdasarkan imajinasi dan perenungan, bukan berdasarkan dokumentasi visual langsung. “Banyak yang mempersoalkan kebenaran itu,” ujarnya .
Menurut Achmad, filosofi di balik lukisan itulah yang lebih penting: posisi Daendels di kiri melambangkan pengkhianatan, sementara sorot mata tajam Pangeran Kornel menggambarkan ancaman dan tantangan .
Keraguan serupa disampaikan Guru Besar Sejarah Universitas Indonesia, Prof. Djoko Marihandono. Dalam penelitiannya, ia menegaskan bahwa tidak ada satupun arsip kolonial, baik laporan Daendels sendiri maupun dokumen resmi Belanda, yang mencatat peristiwa pertemuan tersebut .
“Peristiwa pertemuan Gubernur Jenderal Daendels dan Pangeran Kusumadinata IX tidak tertulis dalam arsip mana pun,” tulis Djoko .
Lebih jauh, analisis terhadap prasasti yang ada di kawasan Cadas Pangeran menunjukkan fakta berbeda. Prasasti itu bertuliskan bahwa pembobokan jalan dilakukan mulai 26 November 1811 hingga 12 Maret 1812, di bawah pimpinan Raden Demang Mangkoepradja dan di bawah penelitian Pangeran Koesoemadinata (Pangeran Kornel) . Artinya, proyek ini berlangsung setelah Daendels digantikan oleh Gubernur Jenderal Inggris, Thomas Stamford Raffles. Prof. Djoko menduga, tokoh yang ditemui Pangeran Kornel kemungkinan besar adalah pejabat tinggi Inggris, bukan Daendels .
Raden Luky Djohari Soemawilaga dari Radya Anom Keraton Sumedang Larang pun mengamini hal ini. Ia mengakui bahwa kebanyakan cerita yang beredar merupakan folklore atau cerita rakyat yang diwariskan secara turun-temurun, tanpa bukti sejarah yang kuat .
Warisan Abadi: Dari Jalan Setapak Menuju Simpul Wisata
Terlepas dari pro-kontra kisah heroiknya, Cadas Pangeran tetaplah monumen hidup peradaban. Jalan ini terbagi menjadi dua lintasan. Jalur atas adalah peninggalan asli era Daendels, sementara jalur bawah merupakan inisiatif perluasan yang dibangun oleh Bupati Sumedang, Pangeran Aria Soeria Atmadja (Pangeran Mekah), pada tahun 1908 .
Nama-nama kampung di sekitarnya pun menjadi saksi bisu sejarah. Ada Kampung Singkup, diambil dari kata schoop (sekop) tempat menyimpan perkakas pekerja, dan Kampung Pamucatan, dari kata mucat (melepas) yang merujuk pada tempat melepas ikatan kerbau penarik gerobak .
Saat ini, dengan beroperasinya Tol Cisumdawu, Jalan Cadas Pangeran dipersiapkan untuk memasuki babak baru. Pemerintah Kabupaten Sumedang berencana menjadikannya sebagai simpul wisata unggulan. Keindahan alamnya yang eksotis serta kisah sejarahnya yang melegenda diharapkan mampu menarik wisatawan yang merindukan suasana klasik dan pemandangan menakjubkan .
Dari celah-celah batu cadas yang terbelah, mengalir tidak hanya aspal jalan, tetapi juga keringat, darah, dan air mata ribuan leluhur. Cadas Pangeran akan tetap abadi, baik sebagai jalan penghubung, monumen kontroversi, maupun pengingat abadi akan harga sebuah peradaban.
(Redaksi)
