Rahasia Gunung Beser Sumedang: Mengapa Warga Pantang Menyebut “Maung”? Jejak Prabu Siliwangi dan Kearifan Lokal Sunda

Rahasia Gunung Beser Sumedang: Mengapa Warga Pantang Menyebut “Maung”? Jejak Prabu Siliwangi dan Kearifan Lokal Sunda

MaungPajajaran.my.id | SUMEDANG — Di lereng Gunung Beser, Desa Nagarawangi, Kecamatan Conggeang, Kabupaten Sumedang, terdapat sebuah pantangan yang hingga kini masih dijaga oleh sebagian masyarakat: tidak boleh menyebut kata maung atau harimau.

Jika terpaksa harus merujuk pada hewan tersebut, warga biasanya menggunakan istilah urang leuweung, yang secara harfiah berarti “penghuni hutan”.

Bagi sebagian orang luar, larangan ini mungkin terdengar seperti takhayul biasa. Namun bagi masyarakat setempat, pantangan tersebut memiliki makna yang lebih dalam karena berkaitan dengan sejarah, penghormatan kepada leluhur, serta kearifan lokal masyarakat Sunda.

“Kami sejak kecil diajarkan agar tidak sembarangan menyebut maung ketika berada di hutan. Itu bentuk penghormatan,” ujar Asep (54), tokoh pemuda Desa Nagarawangi yang aktif dalam kegiatan pelestarian adat.

Hubungan Masyarakat Sunda dan Harimau

Dalam sejarah budaya Sunda, harimau bukan sekadar hewan buas. Ia memiliki makna simbolis yang kuat dan sering dikaitkan dengan kekuatan alam serta dunia spiritual.

Sejarawan Peter Boomgaard dalam bukunya Frontiers of Fear: Tigers and People in the Malay World, 1600–1950 mencatat bahwa wilayah Priangan pada masa lalu merupakan salah satu kawasan dengan populasi harimau yang cukup tinggi di Nusantara.

Sepanjang abad ke-19, berbagai catatan kolonial bahkan menyebut konflik antara manusia dan harimau sering terjadi di wilayah Sumedang, Bandung, dan sekitarnya.

Namun di balik rasa takut tersebut, masyarakat Sunda juga menaruh rasa hormat terhadap harimau yang dianggap sebagai penguasa rimba.

Kisah Prabu Siliwangi dan Legenda Harimau

Dalam tradisi lisan masyarakat Sunda, harimau sering dikaitkan dengan sosok legendaris Prabu Siliwangi, raja besar Kerajaan Pajajaran.

Cerita rakyat menyebutkan bahwa Prabu Siliwangi bersama para pengikutnya menghilang secara gaib dan menjelma menjadi harimau penjaga tanah Sunda.

Namun kajian sejarah menunjukkan bahwa sosok yang dikenal sebagai Prabu Siliwangi kemungkinan besar adalah Sri Baduga Maharaja, raja Pajajaran yang memerintah sekitar tahun 1482 hingga 1521.

Prasasti Batutulis di Bogor mencatat berbagai pencapaian Sri Baduga Maharaja serta menyebutkan bahwa sang raja wafat dan diperabukan, bukan menghilang secara mistis.

Meski demikian, legenda tentang penjelmaan menjadi harimau tetap hidup dalam ingatan kolektif masyarakat Sunda hingga sekarang.

Gunung Beser dan Tradisi Urang Leuweung

Di Desa Nagarawangi, pemaknaan sakral terhadap harimau ini diwujudkan dalam bentuk pantangan yang masih dipatuhi hingga kini.

Gunung Beser dipercaya sebagai kawasan yang harus dihormati oleh siapa pun yang memasukinya.

Abah Entis (68), salah satu sesepuh desa, menjelaskan bahwa pantangan tersebut diwariskan turun-temurun oleh para leluhur.

“Kalau ke Gunung Beser harus sopan. Jangan sembarangan bicara dan harus menghormati yang menjaga,” tuturnya.

Karena itulah masyarakat lebih memilih menggunakan istilah urang leuweung ketika merujuk pada harimau.

Istilah ini mencerminkan pandangan bahwa makhluk penghuni hutan bukan sekadar binatang, tetapi bagian dari alam yang harus dihormati.

Kearifan Lokal yang Mengajarkan Etika terhadap Alam

Jika ditelisik lebih dalam, pantangan menyebut maung sebenarnya mengandung pesan moral yang lebih luas.

Tradisi ini mengajarkan manusia untuk bersikap rendah hati ketika berada di alam.

Nilai tersebut sejalan dengan filosofi Sunda tata titi duduga peryoga, yakni prinsip bertindak dengan bijaksana sesuai dengan tempat dan keadaan.

Dalam pandangan ini, alam bukan sekadar objek yang dapat dimanfaatkan, tetapi ruang hidup yang harus dihormati dan dijaga keseimbangannya.

Tradisi yang Perlu Dijaga

Di tengah arus modernisasi, sebagian generasi muda mulai memandang pantangan semacam ini sebagai sesuatu yang kuno.

Namun para sesepuh desa terus berupaya mengenalkan kembali nilai-nilai tradisi kepada generasi muda agar tidak hilang ditelan zaman.

“Tradisi ini bagian dari identitas urang Sunda,” kata Abah Entis.

Menjaga Warisan Leluhur

Pantangan menyebut maung di Gunung Beser menjadi salah satu contoh bagaimana tradisi lokal menyimpan nilai sejarah dan filosofi yang mendalam.

Legenda tentang Prabu Siliwangi mungkin tidak sepenuhnya dapat dibuktikan secara historis, tetapi kisah tersebut tetap menjadi bagian penting dari identitas budaya Sunda.

Di tengah arus globalisasi, kearifan lokal seperti ini justru menjadi pengingat bahwa hubungan manusia dengan alam seharusnya dibangun atas dasar penghormatan dan keseimbangan.

Sebagaimana pesan Abah Entis:

“Ulah nepak dada ngaku urang Sunda lamun teu ngarti kana warisan karuhun.”

Pesan sederhana itu menjadi pengingat bahwa identitas budaya tidak hanya diwariskan, tetapi juga harus dipahami, dihayati, dan dijaga.

Kontributor: Tim Maung Pajajaran News
Editor: Redaksi
Foto: Dokumentasi

2 thoughts on “Rahasia Gunung Beser Sumedang: Mengapa Warga Pantang Menyebut “Maung”? Jejak Prabu Siliwangi dan Kearifan Lokal Sunda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *