Air Mata Bahagia di Markas TNI: Saat Dandanan Loreng Melayani Piring-Piring Kosong Para Pejuang Jalanan
SUMEDANG – Ada pemandangan yang menyayat hati sekaligus memantik rasa haru yang mendalam di Markas Koramil 1004 Tanjungsari, Jum’at siang (17/7/2026). Di bawah terik matahari pukul 12.30 WIB, markas yang biasanya menjadi simbol ketegasan militer itu seketika melunak, menjelma menjadi perlindungan yang penuh kasih sayang bagi mereka yang lelah ditempa kerasnya hidup.
Satu per satu, langkah kaki yang letih dari para penarik ojek pangkalan, pengemudi ojek online, kaum dhuafa, hingga jamaah yang baru saja merampungkan doa di masjid-masjid terdekat, melangkah ragu memasuki gerbang Koramil. Namun, keraguan itu runtuh seketika saat tangan-tangan kekar berseragam loreng menyambut mereka dengan senyuman paling tulus dan pelukan hangat.

Hari itu, program “Jum’at Berkah” yang biasanya digelar di Makodim 0610 Sumedang, sengaja dihadirkan langsung di jantung Tanjungsari. Sebuah misi kemanusiaan sederhana namun berdampak besar: mengajak mereka yang sering terlupakan untuk makan siang bersama tanpa jarak.
Di atas lantai Markas Koramil, sekat-sekat strata sosial melebur. Para Babinsa tanpa canggung duduk bersila, berbaur, dan menyajikan makanan dengan tangan mereka sendiri kepada para pejuang nafkah. Kehangatan itu merayap cepat, mengubah suasana riuh menjadi penuh keharuan saat doa bersama dipanjatkan.
Danramil 1004 Tanjungsari, Kapten Inf Agus Hermawan, tak mampu menyembunyikan rasa harunya saat menyaksikan pemandangan di depannya.
“Kegiatan ini adalah detak jantung kami di Koramil 1004 Tanjungsari. Jika biasanya kami yang mendatangi masjid-masjid lewat Jum’at Keliling, hari ini konsepnya kami balik. Kami ingin pintu markas ini terbuka lebar, kami ingin menjamu mereka di sini,” ujar Kapten Inf Agus Hermawan, menahan getaran emosi di dadanya.
“Ini adalah wujud syukur, bentuk nyata kemanunggalan TNI dan rakyat. Kami hanya ingin berbagi rezeki yang dititipkan Tuhan, merangkul saudara-saudara kami para pekerja ojek dan kaum dhuafa dalam kebersamaan makan siang gratis ini,” sambungnya dengan mata yang berkaca-kaca.
Bagi para pekerja jalanan yang setiap hari berjuang demi sesuap nasi di bawah terik dan hujan, makan siang hari ini bukan sekadar pelepas lapar, melainkan sebuah pengakuan atas harga diri mereka. Mereka dihargai, dihormati, dan dicintai oleh para pelindung bangsa.
Jum’at siang itu menjadi saksi bisu bahwa dinding-dinding kokoh Markas Koramil 1004 Tanjungsari sejatinya adalah Rumah Rakyat. Sebuah pengingat abadi bagi setiap prajurit yang bertugas, bahwa Rakyat adalah Ibu Kandung TNI, dan seorang anak tidak akan pernah membiarkan ibunya kelaparan atau berjuang sendirian.

