Konflik Sosial Lemahnya Kesadaran Dalam Berbudaya

Konflik Sosial Lemahnya Kesadaran Dalam Berbudaya

Bandung, Selasa 28 Juli 2026. Peristiwa kerusuhan yang sering terjadi diantara kelompok masyarakat menandakan rendahnya pemahaman dan kesadaran kearifan lokal dan disharmonisasi disebabkan egosentris yang berlebihan.

Konflik antar kelompok penduduk pribumi dan kaum urban atau pendatang merupakan realita dimana faktor kemampuan salah satu kelompok dalam memahami kelompok lainnya, bisa jadi di sebabkan berbeda latar belakang pendidikan, sentimen berlebihan terhadap suku, agama dan lainnya hal tersebut di sampaikan oleh, Pemerhati Sosial Edi Sutiyo, SH saat di mintai tanggapannya atas konflik horizontal yang kerap terjadi.

Menurut Edi gesekan hingga bentrokan terjadi tentu ada sebabnya, beberapa hal yang muncul kepermukaan adalah warga pendatang sering kali kurang memahami kultur dan budaya lokal, terlebih mereka sering kali tidak mampu menerapkan prinsip di mana bumi di pijak disana langit di junjung, ada hambatan serta sumbatan komunikasi, disamping itu ada juga persepsi yang timbul dan menyepelekan eksistensi kaum pendatang, masyarakat lokal juga ada yang melakukan diskriminasi antara pribumi dan pendatang, inilah fakta yang terjadi masing masing kadang meninggikan ego dari yang lain.

Di samping itu di beberapa daerah sebagian aparatur pemerintah dari lingkungan terendah melakukan labelisasi terhadap satu kelompok sehingga langkah tersebut menciptakan marginalisasi ini yang memunculkan gesekan kecil yang kalau di biarkan menyebabkan konflik di lapisan bawah,” Tegasnya.

Keberagaman yang di bungkus dalam ke bhinekaan tunggal ika harus kembali di suarakan dan di dengungkan di ruang publik, pemerintah, tokoh masyarakat serta kaum terdidik harus menjadi lokomotif sehingga menjadi lem perekat dianatra kelompok masyarakat yang berbeda, terlebih saat ini pemicu konflik berkembang dari perbedaan budaya menjadi motif ekonomi terutama di kota kota besar di Indonesia.

Sudah saatnya kembali di ciptakan berbagai program yang menghadirkan berbagai kelompok masyarakat dalam satu kegiatan baik itu budaya, ekonomi pendidikan dan lain sebagainnya sehingga rasa kebersamaan dalam satu kesatuan anak bangsa terus tumbuh, dan ini di mulai oleh para pemimpinnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *